Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.
(Amsal 18:12)
“…selama anda berbangga diri, Anda tidak dapat mengenal Tuhan. Manusia yang berbangga diri selalu memandang rendah orang lain dan berbagai hal; dan tentu saja, selama Anda melihat ke bawah, Anda tidak dapat melihat sesuatu yang ada di atas Anda.”1 —C.S Lewis
Kerendahan hati berbeda dengan rendah diri. Rendah diri adalah saat kita memosisikan diri kita di bawah orang lain, tetapi rendah hati adalah saat kita memposisikan kepentingan kita di bawah kepentingan orang lain.
Rendah hati berarti memosisikan diri kita bukan lagi sebagi pusat segalanya dan menjadikan Tuhan sebagai pusat hidup kita. Rendah hati merupakan suatu keputusan, suatu tindakan, bukan berasal dari luar tetapi dari dalam pribadi masing-masing. Mengubah orientasi yang dahulu tentang saya, untuk saya, karena saya menjadi tentang Tuhan, untuk Tuhan, dan karena Tuhan.
Pernahkah pernyataan ini timbul dalam hatimu atau mungkin mengatakannya juga?
“Aku tahu aku salah, tetapi aku tidak mungkin minta maaf, gengsi ah.”
“Siapa dia kasih kritik ke aku? Kayak dia lebih pinter aja.”
“Pelayanan ini ga sesuai dengan keinginanku, mengecewakan. Aku keluar sajalah, cari pelayanan lain.”
“Kakak PA dan kakak mentorku ga peka banget sama yang lagi aku rasain. Aku harus kasih tau dia supaya dia berubah.”
“Aku tahu aku memiliki beberapa kebiasaan buruk. Tapi itulah diriku. Aku tidak harus berubah untuk siapapun.”
“Duh, mereka minta tutor lagi, sayang banget waktu dan tenagaku buat ngurusin orang lain. Tapi yaudahlah, nanti dianggap kakak kelas yang pelit.”
Tahukah apa persamaan dari semua pernyataan di atas? Persamaanya adalah pusatnya, yaitu diri sendiri.
Kalau kita merasa sanggup untuk menanggung semuanya sendiri, tidak membutuhkan orang lain, tidak membutuhkan pembimbing rohani, tidak membutuhkan persekutuan, atau bahkan tidak membutuhkan Tuhan dan sibuk mencapai keinginan dan pencapaian pribadi kita, coba cek kembali siapa yang menjadi pusat dalam hidup kita.
Hidup ini adalah kasih karunia, hidup ini pemberian dari Tuhan. Hidup kita dibayar lunas dengan darah Yesus di atas kayu salib. Hidup kita bukanlah milik kita lagi, tetapi milik Tuhan yang mengambil kita dari maut dan hanya karena kasih karunia-Nya menjadikan kita anak-anak kesayangan-Nya.
Berilah diri kita untuk dibentuk dan diproses menjadi pribadi yang berpusat kepada Tuhan. Berilah diri untuk mau diajar dan dibimbing dalam pengenalan akan Tuhan. Belajar menerima saran dan kritik dari orang sekitar yang mengasihi kita. Bukankah lebih baik teguran yang nyata daripada kasih yang tersembunyi? Orang-orang disekitar kita Dia tetapkan untuk membentuk dan memproses kita. Bersyukur kalau ada orang yang mau memperingatkan dan menegur kita karena teguran bentuk kasih juga loh.
Mari kita renungkan kembali apa motivasi kita yang paling mendalam dalam mengerjakan studi, pelayanan, dan dalam mencapai cita-cita kita.
Apa yang membuat kita merasa lebih daripada orang lain? Ingat kembali kalau di mata Tuhan semua orang berharga dan semua yang kita miliki adalah pemberian-Nya. (acr)
Be humble is not about thinking less of yourself
Be humble is about thinking about yourself less
1C.S. Lewis, Mere Christianity (1952;repr. New York:HarperCollins, 2001), 121-22,124.