Intermedia PMK ITB

Prasasti Digital Para Kesatria Intermedia

Cobaan Menuju Kemenangan


Tidak jarang orang sering mengalami berbagai masalah dalam kehidupannya. Baik masalah kuliah bagi mahasiswa, masalah pekerjaan bagi seorang pekerja, maupun masalah keluarga bagi yang berumah tangga. Ketika kita mengalami berbagai masalah, janganlah sekali-kali kamu putus asa, apalagi berpikir untuk marah kepada Tuhan, bahkan tidak percaya lagi kepada Tuhan. Itu adalah perlakuan yang salah dan bukan cerminan seorang yang beriman.

Terkadang kita meminta untuk diberi kekuatan dari Tuhan. Lalu, Tuhan memberikan suatu cobaan ataupun masalah agar kita dapat menguatkan diri sesuai permintaan kita kepada Tuhan. Oleh karena itu, masalah–masalah yang kita hadapi seluruhnya berasal dari Tuhan yang berguna untuk menguatkan kita, bukan untuk mencobai dan menjatuhkan kita. Namun yang pasti, masalah dan cobaan itu juga merupakan senjata ampuh yang digunakan oleh iblis untuk menghancurkan hidup kita. Oleh sebab itu, baiklah kita tetap bersyukur atas berkat yang kita terima selama ini. Jangan lupa untuk tetap memohon dan meminta kepada-Nya dalam nama Bapa.

Percaya, bahwa apapun cobaan yang kita alami merupakan cara Tuhan untuk mengembangkan karakter kita. Ketika cobaan datang Tuhan berpesan, “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” (Yesaya 41:10) (van)

 

Aku, Dirimu, Diri-Nya


TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu sendiri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

(Kejadian 2:18)

Saat ini, mungkin sebagian besar di antara kita ada yang sudah berpacaran selama lebih dari satu tahun, ada yang mungkin hanya sebulan tetapi sudah pernah berpacaran dengan mantan pacar minimal satu orang, ada yang bahkan sampai sekarang belum atau tidak punya pacar, dengan istilah kerennya forever alone atau ‘jomblo’. Kadang, orang-orang yang masih jomblo disindir dengan sebutan-sebutan itu, sehinggan terkadang kita malah berusaha untuk memiliki pacar, walaupun cara memilihnya ngasal.

Namun, apakah sebenarnya arti kata berpacaran?

Menurut asal-muasal katanya, berpacaran merupakan perpaduan dari konfiks ber–an dan kata dasar ‘pacar’. Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa pacar merupakan teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih.

Berpacaran, sebagaimana yang kita ketahui, merupakan langkah awal dalam proses pencarian teman hidup. Di dalam proses ini, adanya rasa peduli terhadap seseorang akan membawa kita ke dalam proses memahaminya secara lebih dalam lagi. Proses ini jika dilakukan dengan bersungguh-sungguh akan melatih kita dengan beberapa poin: bersabar dan lebih peka terhadap orang lain. Kepekaan ini membutuhkan pengetahuan yang luas tentang apa yang sebenarnya ia cari dan butuhkan.

Di dalam hubungan ini juga, kita mengetahui pasti ada sesuatu yang akan dilakukan untuk mempertahankan hubungan itu. Sesuatu tersebut akan menjadi indikator bagaimana sebenarnya hubungan mereka, akan dibawa ke arah mana hubungan tersebut. Sebagai seorang Kristen, kita dituntut untuk tidak melakukan hal-hal yang menyimpang dari ajaran Kristen.

Dalam Kejadian 2:18, Allah sudah berjanji akan memberikan kita ‘penolong’. Dia tahu bahwa kita memerlukan seseorang sebagai teman hidup kita dalam mengarungi bahtera kehidupan. Jadi, ketahuilah dan yakinilah bahwa Tuhan sudah menyiapkan seseorang bagimu untuk menjadi teman hidupmu kelak, dan yakinilah bahwa hubungan apapun yang kita jalani sekarang adalah hanya bagi kemuliaan Tuhan. (jun)

Bersyukur!


Alkitab mengajarkan kita untuk selalu bersyukur. Tetapi, bersyukur itu bukanlah hal yang mudah. Mungkin beberapa tips ini bisa membantu kita dalam meningkatkan ucapan syukur kita :

1. Gunakan hati

Saat kita hanya melihat keadaan sekeliling, akan sangat sulit untuk mengucap syukur. Gunakan perasaanmu, rasakan kebaikan Tuhan dan kamu akan selalu bisa mengucap syukur di segala kondisi.

2. Ubah kalimat

Sebelum mengubah diri dari yang sering mengeluh ke pribadi yang penuh ucapan syukur, mari terlebih dulu ubah cara bicaramu. Daripada menggunakan kalimat “gimana?” atau  “kenapa?”, mari kita gunakan kalimat “syukurlah…”

3. Cara bergaul

Pergaulan yang baik merusak kebiasaan yang buruk. Apabila lingkungan sekitar kita selalu mengeluh, respon kita pun pasti terbawa seperti itu. Lain halnya apabila teman-teman kita selalu mengucap syukur dan berpikir positif. Boleh dicoba!

4. Tulis

Manusia sangat mudah untuk lupa. Tulislah setiap kali kamu mengalami mujizat atau penyertaan Tuhan dalam hidupmu. Saat kamu lagi sedih, kamu bisa buka catatan itu dan bersyukur karenanya.

5. Doa

Seorang bijak pernah berkata, “Sekalipun kata yang kamu bisa ucapkan di dalam doa adalah terima kasih, itu sudah cukup.” Tuhan akan sangat menghargai anak-Nya yang tidak hanya meminta, tetapi juga mau menghargai setiap kebaikan-Nya.

Jadi, tunggu apa lagi? Mari kita sama-sama belajar untuk lebih banyak bersyukur. Bersyukur di tengah kesusahan bisa membuka jalan pertolongan Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. (gvs)

Meranti (Mengejar Kerendahan Hati)


Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.

(Amsal 18:12)

“…selama anda berbangga diri, Anda tidak dapat mengenal Tuhan. Manusia yang berbangga diri selalu memandang rendah orang lain dan berbagai hal; dan tentu saja, selama Anda melihat ke bawah, Anda tidak dapat melihat sesuatu yang ada di atas Anda.”1 —C.S Lewis

Kerendahan hati berbeda dengan rendah diri. Rendah diri adalah saat kita memosisikan diri kita di bawah orang lain, tetapi rendah hati adalah saat kita memposisikan kepentingan kita di bawah kepentingan orang lain.

Rendah hati berarti memosisikan diri kita bukan lagi sebagi pusat segalanya dan menjadikan Tuhan sebagai pusat hidup kita. Rendah hati merupakan suatu keputusan, suatu tindakan, bukan berasal dari luar tetapi dari dalam pribadi masing-masing. Mengubah orientasi yang dahulu tentang saya, untuk saya, karena saya menjadi tentang Tuhan, untuk Tuhan, dan karena Tuhan.

Pernahkah pernyataan ini timbul dalam hatimu atau mungkin mengatakannya juga?

“Aku tahu aku salah, tetapi aku tidak mungkin minta maaf, gengsi ah.”

“Siapa dia kasih kritik ke aku? Kayak dia lebih pinter aja.”

“Pelayanan ini ga sesuai dengan keinginanku, mengecewakan. Aku keluar sajalah, cari pelayanan lain.”

“Kakak PA dan kakak mentorku ga peka banget sama yang lagi aku rasain. Aku harus kasih tau dia supaya dia berubah.”

“Aku tahu aku memiliki beberapa kebiasaan buruk. Tapi  itulah diriku. Aku tidak harus berubah untuk siapapun.”

“Duh, mereka minta tutor lagi, sayang banget waktu dan tenagaku buat ngurusin orang lain. Tapi yaudahlah, nanti dianggap kakak kelas yang pelit.”

Tahukah apa persamaan dari semua pernyataan di atas? Persamaanya adalah pusatnya, yaitu diri sendiri.

Kalau kita merasa sanggup untuk menanggung semuanya sendiri, tidak membutuhkan orang lain, tidak membutuhkan pembimbing rohani, tidak membutuhkan persekutuan, atau bahkan tidak membutuhkan Tuhan dan sibuk mencapai keinginan dan pencapaian pribadi kita, coba cek kembali siapa yang menjadi pusat dalam hidup kita.

Hidup ini adalah kasih karunia, hidup ini pemberian dari Tuhan. Hidup kita dibayar lunas dengan darah Yesus di atas kayu salib. Hidup kita bukanlah milik kita lagi, tetapi milik Tuhan yang mengambil kita dari maut dan hanya karena kasih karunia-Nya menjadikan kita anak-anak kesayangan-Nya.

Berilah diri kita untuk dibentuk dan diproses menjadi pribadi yang berpusat kepada Tuhan. Berilah diri untuk mau diajar dan dibimbing dalam pengenalan akan Tuhan. Belajar menerima saran dan kritik dari orang sekitar yang mengasihi kita. Bukankah lebih baik teguran yang nyata daripada kasih yang tersembunyi? Orang-orang disekitar kita Dia tetapkan untuk membentuk dan memproses kita. Bersyukur kalau ada orang yang mau memperingatkan dan menegur kita karena teguran bentuk kasih juga loh.

Mari kita renungkan kembali apa motivasi kita yang paling mendalam dalam mengerjakan studi, pelayanan, dan dalam mencapai cita-cita kita.

Apa yang membuat kita merasa lebih daripada orang lain? Ingat kembali kalau di mata Tuhan semua orang berharga dan semua yang kita miliki adalah pemberian-Nya. (acr)

Be humble is not about thinking less of yourself

Be  humble is about thinking about yourself less

1C.S. Lewis, Mere Christianity (1952;repr. New York:HarperCollins, 2001), 121-22,124.

Not To Memorize, But To Spell!


Di dalam buku “Help Your Child Learn to Read” oleh Betty Root M.B.E, ada hal menarik yang layak diperhatikan. Seorang anak dapat dengan lebih mudah mengeja sebuah kata dengan cara menuliskan kata tersebut ketimbang membaca untuk menghapalkannya. Dalam hal ini, seorang anak benar-benar dilatih untuk menerapkan sendiri bagaimana kata-kata itu dibentuk dan bagaimana pola dan susunan runtut huruf-huruf pembentuk kata tersebut. Hal ini akan sangat membantu anak untuk dapat dengan mudah mengetahui gambaran sebenarnya mengenai kata tersebut.

Begitu juga dengan kita. Saat kita membaca ayat-ayat Alkitab, mungkin kita dapat menghapalkannya dengan mudah. Akan tetapi, dapatkah kita mengejanya dengan baik jika kita hanya membacanya saja? Ataukah itu hanya sekadar bacaan belaka, sehingga kita hanya perlu tahu isi ayat tersebut?

Jika kamu membaca sebuah buku dan merasa bahwa buku tersebut bermanfaat, tetapi kamu tidak menerapkannya di kehidupanmu,  alangkah baiknya jika kamu tidak membaca buku tersebut. Sebab selain ya atau tidak, semuanya berasal dari si jahat ( Matius 5:37). Jadi, jika kita benar-benar Kristen sejati, setelah  membaca Alkitab, kita diharapkan dapat melakukan sendiri Firman Tuhan dalam kehidupan kita, agar kita dapat dengan mudah menggambarkan bagaimana sebenarnya Firman Tuhan itu dan dengan mudah  mencerna apa maksud Tuhan dalam setiap kata yang diguratkan dalam kitab-Nya. (jun)

Pengiburan Terbesar


Kita mungkin akan dengan cepat mencela ketiga teman Ayub karena mereka tidak peka terhadap penderitaan yang dialami Ayub. Namun, ketika mereka datang pertama kalinya, mereka hanya duduk diam di samping Ayub, tujuh hari lamanya (Ayub 2:13) sebelum akhirnya berbicara. Ternyata, itulah saat-saat paling menyentuh yang mereka luangkan bersama Ayub.

Jika menuruti naluri, kita akan menarik diri dari orang-orang yang sedang mengalami penderitaan. Siapa yang tahu apakah mereka ingin bercerita tentang kesulitan mereka atau tidak? Apakah mereka ingin dihibur? Apakah kehadiran kita akan membantunya?

Seringkali orang yang menderita akan mengingat orang-orang yang bersikap diam dan tidak menonjol. Seseorang yang hadir pada saat dibutuhkan, yang mau mendengar, yang tidak tergesa-gesa ingin pergi, yang bersedia memeluk, merangkul, dan menangis bersama. Pendek kata, seseorang yang menyediakan diri dan mau menyelami perasaan pihak yang menderita.  Jadi, penghiburan terbesar  yang diinginkan oleh orang yang sedang bersedih bukan nasihat, melainkan telinga yang bersedia mendengar dan hati yang terbuka. (jun)

Same here, same there, same everywhere


Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran.

(1 Yohanes 1 : 6)

Ada seorang Kristen yang mengaku sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Orang Kristen ini selalu taat beribadah, tidak pernah absen datang ke gereja, rajin bersekutu, bahkan aktif melayani. Sekilas kehidupannya rohaninya tampak begitu baik. Tetapi ternyata, kehidupan jasmaninya berbanding terbalik. Di gereja ia menjadi malaikat, tetapi di luar gereja ia melakukan berbagai dosa. Ia pikir, perilakunya yang tidak sesuai perintah Tuhan dapat ditoleransi dengan pelayanan yang ia lakukan.

Apabila kita mengasihi seseorang, kita akan selalu berusaha untuk menjalin komunikasi yang baik dengan orang tersebut, bukan? Kita tidak akan tega mengecewakan orang yang kita kasihi. Setiap hal yang kita lakukan, kita pasti ingin membuat bangga orang tersebut, meskipun orang yang kita kasihi tidak melihat jerih lelah kita. Analogi ini sama dengan kehidupan kita. Ketika kita mengakui bahwa Yesus adalah Juruselamat kita, kita akan belajar mengasihi-Nya, selalu menjalin komunikasi dan selalu ingin memiliki persekutuan yang intim dengan-Nya. Bukan hanya di gereja, tetapi dalam setiap aspek kehidupan kita. Ayat pokok kita dengan jelas mengatakan, persekutuan kita dengan Tuhan akan menjadi sia-sia apabila kehidupan sehari-hari kita bertolak belakang dengan kehendak Tuhan. Pada saat hidup kita hanya menuruti keinginan daging atau pada saat hidup kita dirusak oleh dunia, kita sudah berdosa. Kita sudah membohongi Tuhan dan manusia, kita tidak menghargai persekutuan kita dengan Tuhan.

Sebuah persekutuan yang baik dengan Tuhan berarti membentuk kebiasaan yang baik di setiap aspek kehidupan kita. Ada kebiasaan baik yang sama di gereja, di rumah, dan mana pun kita berada. Jadi, jangan menyia-nyiakan persekutuan kita dengan Tuhan, Tuhan tidak memerlukan orang yang berupa malaikat hanya di dalam rumah-Nya. Apakah guna persekutuan jika kita menjadi garam di tengah air laut yang sudah asin? (gvs)

Fokus Ada Pada-Nya


Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

(Efesus 2 : 10)

Saat ini, apa yang menjadi fokus hidupmu? Dapat IPK 4? Atau mendapatkan pasangan hidup yang cantik atau ganteng? Dapat uang banyak? Atau fokus pada hal yang lain? Sebenarnya apa yang seharusnya menjadi fokus hidup kita sebagai seorang yang beragama Kristen?

Setiap orang pasti memiliki fokus hidupnya masing-masing. Ketika kita telah memiliki fokus hidup, maka segala sesuatu yang kita lakukan menjadi lebih terarah dan teratur. Masing-masing dari kita hendaknya memastikan bahwa hal yang menjadi fokus hidup kita itu sudahlah benar. Dapat kita bayangkan ketika seseorang tidak memiliki fokus hidup yang benar, maka hidupnya menjadi tidak terkontrol bahkan berantakan.

Sebagai seorang yang beragama Kristen, seharusnya Tuhanlah yang menjadi fokus hidup kita. Apapun yang sedang kita lakukan, baik ataupun buruk kejadian yang kita alami, tetap Tuhanlah yang menjadi fokus hidup kita. Seperti tertulis pada Galatia 2:20, ketika kita memilih untuk menjadi pengikut Kristus, maka hidup kita bukan lagi kita sendiri yang hidupi melainkan Kristus juga turut hidup di dalam diri kita. Selain itu, hidup kita juga haruslah berlandaskan iman kepada Yesus Kristus.Ketika kita telah hidup di dalam Tuhan, dan Tuhan di dalam kita, maka pasti hidup kita akan mencerminkan Kristus.

Kita diciptakan untuk melakukan pekerjaan yang baik, seperti yang telah tertulis pada Efesus 2:10. Jadi hendaknya kita menuruti hal yang telah diperintahkan Tuhan. Karena setiap hal yang Tuhan perintahkan kepada kita semuanya adalah pekerjaan yang baik. Jangan sampai kita menjadi sama seperti Saul dan Simson (1 Samuel 13 dan Hakim-hakim 13 – 16) yang tidak mentaati perintah Tuhan dan justru mengikuti hawa nafsu mereka masing-masing.Tuhan telah mengatakan bahwa Ia mau, supaya kita hidup di dalam Dia. Artinya, Tuhan ingin kita menjadikan Dia sebagai fokus hidup kita.

Sekarang maukah engkau menjadikan Tuhan sebagai fokus hidupmu dan meninggalkan fokus hidupmu yang lama?

Tuhan berkati. (orp)

Multitasking


Istilah multitasking muncul pertama kali dalam ranah teknologi informasi. Akan tetapi, seiring berkembangnya zaman, definisi multitasking mulai meluas. Multitasking yang dibicarakan sekarang adalah human multitasking yaitu tindakan seseorang yang melakukan lebih dari satu pekerjaan dalam selang waktu yang sama. Secara sekilas, kita akan menganggap multitasking merupakan hal yang baik untuk dilakukan. Akan tetapi, menurut penelitian yang dilakukan, hanya 2% orang yang dapat melakukan multitasking secara efektif, selebihnya sebanyak 98% orang yang melakukan multitasking mengalami penurunan produktivitas.

Kebanyakan orang tidak dapat melakukan multitasking secara efektif karena mengalami distraksi dari pekerjaan lain yang ia lakukan dalam selang  waktu yang sama. Dapat dilihat bahwa permasalah utama dari multitasking adalah fokus seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan. Ketika mengerjakan beberapa pekerjaan secara bersama–sama, otak kita tidak dapat fokus sehingga menyebabkan produktivitas kita menurun.

Sebenarnya, Alkitab pun telah mengajarkan kita untuk fokus dalam mengerjakan sesuatu (Matius 6:24). Jadi, untuk dapat melakukan suatu pekerjaan dengan baik dan maksimal, seseorang hanya perlu mempunyai fokus terhadap pekerjaan yang sedang dilakukannya. Ketika sudah melakukan pekerjaan dengan fokus, hasil pekerjaan yang baik dan memuaskan akan datang dengan sendirinya. (nnl)

Redemption



(ens)

Post Navigation